Hukrim

Karhutla londerang kembali membara ,warga pertanyakan sumber api dan penanganan hukum ??

×

Karhutla londerang kembali membara ,warga pertanyakan sumber api dan penanganan hukum ??

Sebarkan artikel ini

TANJABNOW.COM TANJAB TIMUR – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Hutan Lindung Gambut (HLG) Londerang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, kembali menjadi sorotan. Setelah sebelumnya terbakar dan berhasil dipadamkan, kawasan gambut tersebut kembali dilanda kebakaran pada pertengahan September 2026.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat, terutama mengenai asal mula api, pengawasan kawasan, hingga proses penelusuran penyebab kebakaran.

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, kebakaran pertama di HLG Londerang mulai terdeteksi pada 27 Agustus 2026. Api kemudian berhasil dikendalikan pada 2 September setelah membakar sekitar 86 hektare lahan. Namun, kebakaran kembali muncul di bagian lain kawasan tersebut pada pertengahan September.

Gubernur Jambi Al Haris bahkan kembali meninjau lokasi pada 16 September 2026 setelah kebakaran kembali terjadi. Ia menyebut kawasan tersebut sebelumnya telah dipadamkan, namun api kembali muncul di bagian lain.

Di tengah berulangnya kebakaran tersebut, muncul dugaan dari sejumlah warga mengenai keterkaitan titik awal kebakaran dengan kawasan yang sebelumnya menjadi lokasi program rehabilitasi lingkungan yang masuk dalam program kerja BP DAS .

Salah seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan menuturkan, kawasan Londerang sebelumnya disebut menjadi lokasi kegiatan rehabilitasi program kerja BP DAS sebagai bagian dari kewajiban lingkungan perusahaan pertambangan batu bara yang disebut warga sebagai KBB.

Menurut sumber tersebut, kegiatan rehabilitasi dilakukan pada lahan kritis di kawasan Londerang dengan penanaman tanaman kayu putih.

Warga tersebut juga menyebut pelaksanaan kegiatan rehabilitasi melibatkan seseorang bernama Sodik, yang menurut keterangannya merupakan aparatur sipil negara di lingkungan Kementerian Kehutanan.

Namun, keterangan mengenai hubungan program rehabilitasi yang masuk dalam program kerja BP DAS tersebut dengan munculnya api belum terverifikasi secara independen. Belum ada keterangan resmi yang menyatakan bahwa kegiatan rehabilitasi tersebut menjadi penyebab kebakaran.

Karena itu, dugaan tersebut perlu dibuktikan melalui pemeriksaan lapangan, penelusuran titik awal api, pemeriksaan kondisi vegetasi dan lahan, serta penyelidikan aparat penegak hukum.

Karhutla Londerang sendiri bukan perkara sederhana. Karakteristik lahan gambut membuat api dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul meski kobaran di permukaan telah dipadamkan.

Pemerintah Provinsi Jambi sebelumnya menyatakan tim gabungan masih melakukan pendinginan dan pemantauan karena asap di sejumlah titik mengindikasikan kemungkinan masih adanya bara di bawah permukaan gambut.

Pada perkembangan terbaru, penanganan karhutla Londerang kembali diperkuat. Hingga 17 September, sebanyak 142 personel gabungan serta satu helikopter water bombing dilibatkan. PT WKS juga disebut mengerahkan alat berat, pompa pemadam, drone, kendaraan operasional dan sarana pendukung lainnya.

Artinya, persoalan Londerang kini bukan hanya soal bagaimana api dipadamkan, tetapi juga bagaimana penyebab kebakaran dapat diketahui secara terang dan dapat dipertanggungjawabkan.

Masyarakat terdampak tentu berharap penanganan karhutla tidak berhenti pada proses pemadaman. Jika ditemukan adanya unsur kesengajaan maupun kelalaian yang menyebabkan kebakaran, masyarakat berharap proses hukum dilakukan sesuai ketentuan.

Sebaliknya, apabila hasil penyelidikan menunjukkan penyebab lain, informasi tersebut juga perlu disampaikan secara terbuka agar tidak berkembang berbagai dugaan di tengah masyarakat.

Sampai berita ini diturunkan, belum diperoleh konfirmasi resmi dari pihak yang disebut dalam dugaan tersebut maupun aparat penegak hukum mengenai penyebab pasti kebakaran dan perkembangan penyelidikan terkait karhutla di HLG Londerang.

Dengan kebakaran yang kembali terjadi setelah sebelumnya dipadamkan, publik kini menunggu satu jawaban penting: dari mana sebenarnya api Londerang berasal, dan apa yang menjadi pemicunya?

Pertanyaan tersebut penting dijawab melalui penyelidikan berbasis bukti, bukan sekadar dugaan, mengingat kebakaran di kawasan gambut Londerang telah menimbulkan dampak lingkungan dan ancaman asap bagi masyarakat di sekitarnya.

 

reporter ( Wahyu )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *