TANJABNOW.COM TANJABTIMUR— Musibah kebakaran yang melanda warga Desa Lagan Tengah dan Kelurahan Nipah Panjang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, menyisakan luka yang tidak ringan, Rumah tempat berlindung hangus dilalap api. Harta benda yang dikumpulkan bertahun-tahun lenyap dalam waktu singkat. Namun, di tengah kepedihan tersebut, kepedulian dan semangat gotong royong justru muncul dari berbagai elemen masyarakat.
Gerakan Pramuka Kabupaten Tanjung Jabung Timur menjadi salah satu yang bergerak cepat.
Melalui Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka Tanjabtimur bersama seluruh Kwartir Ranting (Kwaran), donasi digalang untuk membantu warga yang terdampak.Hasilnya, terkumpul dana sebesar Rp152.139.000.
Bantuan tersebut bukan sekadar angka. Dana yang dihimpun dari berbagai Kwaran itu kemudian dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk bantuan material bangunan dan bantuan konsumtif.
Penggalangan dana dilakukan secara gotong royong oleh Kwaran Sadu, Mendahara, Nipah Panjang, Geragai, Rantau Rasau, Muara Sabak Barat, Berbak, Muara Sabak Timur, Kuala Jambi, serta Kwarcab Tanjabtimur.

Di Desa Lagan Tengah, bantuan diarahkan untuk membantu warga kembali memiliki tempat tinggal yang layak.
Sebanyak 32 kodi seng disalurkan untuk delapan rumah terdampak. Masing-masing rumah memperoleh empat kodi seng.
Tidak hanya material bangunan, sebanyak 12 korban juga mendapatkan bantuan konsumtif masing-masing sebesar Rp2,9 juta.
Bantuan ini diharapkan mampu menjadi pijakan awal bagi korban untuk bangkit setelah kehilangan tempat tinggal dan harta benda akibat kebakaran.
Kepedulian yang sama diberikan kepada korban kebakaran di Kelurahan Nipah Panjang.
Sebanyak 11 rumah menerima bantuan material berupa total 44 kodi seng. Masing-masing kepala keluarga mendapatkan empat kodi seng.
Sementara korban dengan kondisi rumah rusak berat mendapatkan bantuan konsumtif sebesar Rp2,9 juta.
Untuk tiga kepala keluarga dengan rumah rusak sedang, diberikan bantuan rehabilitasi sebesar Rp1 juta dan bantuan konsumtif Rp1 juta.
Sedangkan satu kepala keluarga dengan kondisi rumah rusak ringan memperoleh bantuan perbaikan sebesar Rp500 ribu dan bantuan konsumtif Rp1 juta.
Bantuan tersebut diberikan dengan mempertimbangkan kondisi kerusakan masing-masing rumah, sehingga bantuan diharapkan benar-benar menyentuh kebutuhan warga.
Bagi para korban, bantuan yang diberikan memiliki arti jauh lebih besar daripada sekadar material.
Desi, salah seorang korban kebakaran, mengaku bersyukur atas kepedulian yang diberikan Gerakan Pramuka Tanjabtimur.
Menurutnya, ketika warga sedang berada dalam kondisi sulit dan kehilangan banyak hal akibat musibah, perhatian dari berbagai pihak menjadi kekuatan tersendiri untuk kembali berdiri.
“KAMI SANGAT BERSYUKUR DAN BERTERIMA KASIH ATAS BANTUAN YANG DIBERIKAN. BANTUAN INI SANGAT BERARTI BAGI KAMI. BUKAN HANYA UNTUK MEMBANTU MEMPERBAIKI RUMAH, TAPI JUGA MEMBERIKAN SEMANGAT BAGI KAMI UNTUK KEMBALI BANGKIT DAN MEMULAI KEHIDUPAN.”
Sementara itu, Kamabicab Pramuka Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Bupati Dillah Hikmah Sari, mengamanahkan seluruh lini organisasi agar tetap solid dan kompak dalam menghadapi berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Menurutnya, kepedulian terhadap korban bencana tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Seluruh organisasi dan elemen masyarakat diharapkan mengambil peran sesuai dengan kemampuan masing-masing.
“KITA HARUS TERUS SOLID DAN KOMPAK KETIKA MASYARAKAT MEMBUTUHKAN. SETIAP ORGANISASI DIHARAPKAN MEMILIKI PERAN DALAM MEMBANTU SESAMA, TERUTAMA SAAT MASYARAKAT TERTIMPA MUSIBAH DAN BENCANA.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah organisasi tidak hanya diukur dari besarnya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada masyarakat.
Bagi para korban kebakaran, rumah mungkin dapat dibangun kembali. Harta benda mungkin perlahan dapat dicari kembali.
Namun, kepedulian yang hadir di saat mereka berada pada titik terberat menjadi kekuatan tersendiri untuk kembali melangkah.
Kepala Kwarcab Pramuka Tanjung Jabung Timur, Ulfi Rahmad, menegaskan bahwa keberadaan Pramuka tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial maupun simbol organisasi.
Pramuka, kata Ulfi, harus mampu hadir dan memberikan manfaat nyata ketika masyarakat menghadapi persoalan dan musibah.
“PRAMUKA BUKAN HANYA SIMBOL. PRAMUKA HARUS HADIR DI TENGAH MASYARAKAT, TERUTAMA KETIKA MASYARAKAT MEMBUTUHKAN. INILAH BENTUK NYATA KEPEDULIAN KITA. APA YANG KITA KUMPULKAN MEMANG TIDAK AKAN MENGGANTIKAN SELURUH KERUGIAN KORBAN, TETAPI SETIDAKNYA BISA MERINGANKAN BEBAN DAN MEMBERIKAN SEMANGAT BAGI MEREKA UNTUK BANGKIT.”
Ulfi juga memberikan apresiasi kepada seluruh pengurus Kwaran yang telah bergerak menggalang bantuan dari masyarakat dan lingkungan masing-masing.
Menurutnya, terkumpulnya donasi hingga lebih dari Rp152 juta merupakan bukti bahwa semangat kebersamaan masih menjadi kekuatan besar ketika masyarakat menghadapi musibah.
“SAYA MENYAMPAIKAN TERIMA KASIH KEPADA SELURUH KWARAN DAN PARA PENGURUS YANG SUDAH BEKERJA KERAS. INI BUKAN HASIL KERJA SATU ATAU DUA ORANG, TETAPI HASIL GOTONG ROYONG. SEMOGA APA YANG KITA LAKUKAN INI MEMBERIKAN MANFAAT DAN MENJADI PENYEMANGAT BAGI SAUDARA-SAUDARA KITA YANG TERKENA MUSIBAH.”
Ulfi berharap semangat kepedulian tersebut dapat terus dipertahankan dan menjadi bagian dari gerakan Pramuka di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Sebab, bagi korban kebakaran, yang mereka butuhkan bukan hanya bantuan untuk membangun kembali rumah, tetapi juga keyakinan bahwa masih ada tangan-tangan yang peduli dan membantu mereka melewati masa sulit.
Reporter ( Wahyu )












